
| Category: |
Books |
| Genre: |
Literature & Fiction |
| Author: |
Jeffrey Eugenides |
.
Buku hadiah perkawinan dari seorang sahabat. Thanks Kie.
Awalnya gw tertarik baca buku karena ulasan salah satu talk show di TV lokal. Sayangnya, gw ga berhasil menemukan buku yang meraih Pulitzer kategori Fiksi tahun 2003 di Gra**dia. Akhirnya, gw khusus pesan ke Kiki. Ndilalah, kikie malah kasi buku ini sebagai hadiah. Sekali lagi, thanks Kie.
.
Sinopsis :
- I was born twice: first as a baby girl, on a remarkably smogless Detroit day in January of 1960; and then again, as a teenage boy, in an emergency room near Petoskey, Michigan, in August of 1974 –
Pembuka kalimat ini mampu melayangkan khayalan kita tentang apa yang mungkin dikisahkan seluruh buku ini. But penulis buku ini benar2 membawa kita mengembara di luar batas imaginasi kita.
.
Calliope Helen Stephanises adalah seorang intersexual a.k.a hermaphrodite yang menderita 5-alpha-reductase deficiency syndrome. Secara biologis, Calliope memiliki alat kelamin perempuan, tapi secara genetik ia adalah laki-laki. Namun hal ini tidak serta merta membuat Calliope atau Call adalah laki-laki secara gender. Karena selain faktor genetik dan biologis, faktor bagaimana seorang intersexual dibesarkan, sebagai laki-laki atau perempuan (sex of rearing) turut mempengaruhi penentuan gender seseorang.
.
It’s complicated. Inti novel ini adalah menjelaskan kerumitan ini. Penulis menjabarkannya pada tiap kalimat dengan indah, detail dan penuh rasa humor.
- In any genetic history. I am the final clause of periodic sentence, and that sentence begins a long time ago, in another language, and you have to read it from the beginning to get to the end, which is my arrival -
Cerita diawali dengan pelarian Kakek dan Nenek Calliope dari Bithynios, di lereng Mounth Olympus, Asia Kecil di akhir musim panas 1922. Ketika Tentara Turki menaklukan daerah Smyrna, terjadi eksodus besar Bangsa Yunani dari Smyrna dan sekitarnya. Pelarian kakak beradik yatim piatu ini berakhir dengan pernikahan sedarah (incest) di atas kapal yang membawa mereka ke negeri impian, Amerika Serikat. Tapi cerita belum berakhir, di sinilah awal perjalanan gen yang menghasilkan Calliope 40 tahun kemudian.
.
***
.
REVIEW :
Middlesex adalah buku kedua Jeffrey Eugenides setelah The Virgin Suicides (1993) yang telah difilmkan Sofia Cappola (1999). Sesuatu yang sangat jarang terjadi, seorang yang baru menulis 2 buku dan kedua buku tersebut jadi best seller dan berujung Pulitzer. Gw jadi bingung mo nulis ulasan apalagi untuk sebuah novel pemenang karya julnalistik cetak tertinggi di Amerika Serikat. Hehehe.
.
But coba gw mulai deh..
.
Jeffrey Eugenides membagi Middlesex atas 4 bagian.
Book one - mengisahkan kehidupan Kakek Nenek Calliope dan bagaimana mutasi gen dalam dirinya berawal.
Book Two - mengisahkan kehidupan Ayah dan Ibu Calliope dan bagaimana gen resesif itu menguat.
Book Three - mengisahkan kehidupan Calliope secara biologis, genetik dan sex of rearing.
Book Four - mengisahkan kehidupan Calliope dan keluarganya setelah ia menemukan dan menentukan siapa dia, disertai penjelasan medis dan sosiologis tentang intersexual.
.
Membaca Middlesex rasanya seperti membaca biografi Jeffrey Eugenides. Buku ini ditulis melalui riset yang dalam dan akurasi yang kuat. Ia menggunakan kata ganti orang pertama sebagai tokoh sentral cerita ini. Plotnya adalah kilas balik dan masa kini yang diramu dengan apik tanpa membuat pembaca bingung. Hasilnya? Penulis berhasil membuat pembaca mengalir jauh mengikuti imaginasinya tanpa ragu.
.
Jeffrey membumbui kisah ini dengan sangat luwes dan luas. Ia menggunakan mitologi Yunani sebagai analogi. Ia mendeskrisikan ‘pergerakan tiap zaman’ dalam dimensi yang berbeda2, seperti Perang Turki dan Yunani di masa Kakek Nenek Calliope, kebesaran dan dominasi Raksasa Mobil – Ford di Detroit dan kontribusinya pada budaya Amerika di 1920-an, masa depresi 1929, Awal pergerakan Islam di USA yang dimotori oleh para mulat (anak hasil pernikahan bangsa kaukasia dan Arab/Afrika) di tahun 1930-an, Perang dunia ke-2 yang mewajibmiliterkan setiap anak laki-laki, kerusuhan rasial di Detroit 25 Juli 1967, hingga gerakan bawah tanah kaum gay (gender Dysphoria) di San Fransisco.
.
Meskipun kelihatannya gw udah nyeritain seluruh isi buku ini dengan penjelasan di atas, but believe me, I didn’t. Itu belum apa2. Eugenides tidak hanya melatarbelakangi novelnya dengan politik dan sejarah, dia juga berkisah tentang cinta terlarang, romansa, seks, balas dendam, ketakutan, dan banyak hal. Semua dibungkus dalam kalimat yang mengalir dan diselipi humor. Satu hal gw nanti, pada paragraf penutup suatu sub-bab, the wrap is intriguing, funny and contradicting, for instance :
- Checkhov was right. If there’s a gun on the wall, it’s got to go off. In real life, however, you never know where the gun is hanging. The gun my father kept under his pillow never fired a shot. The rifle over the Object’s mantel never did either. But in the emergency room this were different. There was no smoke, no gun powder smell, absolutely no sound at all. Only the way the doctor and nurse react made it clear that my body had lived up to the narrative requirements. –
.
Sebuah novel yang sangat layak dimiliki.
.
.
- Sex is biological, gender is cultural - Jeffrey Eugenides, Middlesex (2003)
Recent Comments